MUALAF BARU MUDAH DIHASUT KELOMPOK EKSTREMIS AJARAN RADIKAL DI INDONESIA
Seorang aktivis memperingatkan bahwa mualaf, atau orang yang baru masuk Islam, telah menjadi sasaran kelompok-kelompok ekstremis yang berusaha menyebarkan ajaran radikal di Indonesia.
Peneliti dan aktivis Studi Agama dan Ilmu Sosial (ELSA) Khoirul Anwar mengatakan bahwa dengan pemahaman mereka yang relatif rendah terhadap ajaran Islam, banyak anggota baru telah mudah terpikat oleh pemikiran radikal yang disebarkan kelompok-kelompok ekstremis.
“Saya melihat indikasi seperti itu di Pusat Mualaf. Saya memiliki pengalaman menarik pada bulan Desember 2016. Saya bertemu dengan seorang mualaf yang telah menjadi Muslim hanya selama enam bulan. Dia sangat antusias ketika dia berbicara tentang kekhalifahan Islam, ”kata Khoirul The Jakarta Post pada hari Senin.
Pemuda itu, kata Khoirul, telah menyatakan keinginannya untuk melakukan jihad melawan orang-orang kafir. "Bahkan Indonesia, negara demokratis, dianggap sebagai negara kafir," tambahnya, mengacu pada apa yang dikatakan pemuda itu.
Pria itu mengaku dia tidak memiliki mentor khusus yang mengajarinya pemahaman yang lebih dalam tentang Islam, kata Khoirul. "Melalui internet, dia bertemu seseorang yang kemudian dia datang untuk mempertimbangkan 'saudara laki-lakinya', yang 'membantu' dia belajar tentang jihad," tambah aktivis itu.
Khoirul mengatakan bahwa melalui percakapannya dengan para petobat baru, ia menjadi sadar sepenuhnya betapa mudahnya bagi seseorang untuk "menjadi seorang radikal". Mereka bahkan siap untuk "menjadi teroris" hanya dari membaca artikel online tentang Islam dan menonton video YouTube, yang sebagian besar berisi pesan kebencian, tambahnya.
"Inilah sebabnya mengapa penting untuk menyebarkan tulisan dan video tentang Islam yang mengandung pesan perdamaian," kata Khoirul.
Dia mengatakan penelitian eLSA juga mengungkapkan bahwa pemikiran radikal telah menyebar ke siswa SMA melalui kegiatan ekstrakurikuler. Beberapa mentor eksternal juga telah memengaruhi siswa untuk menjadi radikal melalui kegiatan bimbingan dan konseling Islam.
Pada awal tahun, Yayasan Wahid, dalam kemitraan dengan eLSA Semarang, melibatkan 15 sekolah di Semarang, Kendal, Salatiga dan sekitarnya dalam program percontohan yang disebut "Sekolah Damai" (Sekolah Damai).
Program ini bertujuan untuk mengekang penyebaran ajaran radikal yang mendorong kebencian terhadap kelompok atau komunitas lain yang mungkin akhirnya mengarah pada tindakan teror. Sekolah Damai mengajarkan siswa dan guru untuk mengembangkan pemikiran yang merangkul keragaman menuju menciptakan perdamaian.
