Bank Indonesia Akan Terus Membatasi Defisit Rekening Di Bawah 3 Persen
Bank Indonesia mengatakan yakin akan mampu menjaga defisit transaksi berjalan di bawah 3 persen pada akhir tahun ini.
Pada akhir paruh pertama tahun ini, defisit transaksi berjalan sudah mencapai 2,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara.
"Sampai akhir tahun kami yakin defisit bisa dipertahankan di bawah 3 persen," Direktur Eksekutif Departemen Statistik Bank Sentral Yati Kurniati mengatakan kepada wartawan pada hari Jumat.
Yati mengatakan Bank Indonesia akan terus bekerja sama dengan pemerintah untuk menjaga defisit transaksi berjalan lebih terkendali.
Di antara upaya tersebut adalah untuk menarik lebih banyak wisatawan asing dengan mengembangkan potensi sektor pariwisata untuk berkontribusi terhadap pendapatan devisa dalam jangka pendek, katanya.
Strategi yang sama telah diadopsi oleh Thailand, yang telah berhasil mengembangkan industri pariwisatanya sehingga menghasilkan surplus dalam rekening layanannya, katanya.
"Kami akan mengembangkan penghasil devisa seperti sektor pariwisata untuk mengurangi defisit dalam akun layanan," lanjutnya.
Bank Indonesia menghargai pemerintah menciptakan sistem layanan terpadu untuk menarik investasi terutama ekspor dan impor investasi berbasis substitusi dalam upaya untuk memotong defisit transaksi berjalan, katanya.
Selain itu, Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian di pasar keuangan global, dan koordinasi kebijakan dengan pemerintah untuk mendorong kelanjutan reformasi struktural, katanya.
Bank Indonesia akan terus mengamati perkembangan global yang dapat mempengaruhi prospek neraca pembayaran negara seperti ketidakpastian keuangan global yang tinggi, kecenderungan proteksionisme dalam perdagangan internasional dan kenaikan harga minyak, katanya.
Dia mengatakan defisit neraca pembayaran negara itu melebar menjadi US $ 4,3 miliar pada kuartal kedua tahun ini dari sebelumnya US $ 3,9 miliar.
"Ke depan, kinerja neraca pembayaran akan tetap baik dan dapat mempertahankan ketahanan sektor eksternal," prediksi dia.
Sebelumnya, Bank Sentral mengatakan defisit transaksi berjalan negara itu mencapai US $ 8 miliar atau 3 persen dari PDB pada kuartal kedua tahun ini, naik dari US $ 5,7 miliar atau 2,2 persen dari PDB pada kuartal sebelumnya.
Salah satu penyebab peningkatan defisit transaksi berjalan adalah menyusutnya surplus neraca perdagangan komoditas non-migas, dan defisit neraca perdagangan migas yang semakin melebar.
